Monday, June 22, 2009

sepenggal kisah dalam perjalanan hidupku

Perang dalam Keheningan

Pelajaran yang paling berarti selama aku hidup di dunia ini adalah mencintai, aku berani mencintai karena itulah petualangan yang sejati. Ada beberapa teman wanita yang paling tidak pernah singgah dan mewarnai hati dan hari-hariku sepanjang tarikan nafas kehidupanku hingga hari ini. Namun, dari beberapa teman wanita itu yang benar-benar singgah dan membekas di memori anganku hanya dua orang wanita saja. Teman wanita pertama adalah temanku sendiri di kampus ketika masih duduk di bangku kuliah S 1 di Semarang, kota yang telah mendewasakanku dengan kegiatan akademika, derita, dan cinta. Meski tak lama, aku dan teman wanitaku – sebut saja Neny – anak Solo terlibat hubungan cinta yang luar biasa. Sebab cinta harus bertepuk sebelah tangan setelah “perang perasaan” berkecamuk selama seminggu untuk memilih berhubungan atau berhenti dan mengambil jalan sendiri-sendiri, mengingat kita terlibat cinta segitiga. Aku mencintai Neny melalui proses cukup panjang, setelah sebelumnya dia menjadi bendaharaku di kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan sepanjang tahun 2000-2001. Mungkin inilah yang di namakan “tresno jalaran soko kulino”, aku sering datang ke kostnya, semula untuk urusan organisasi tetapi lama-lama berubah menjadi urusan hati.

Dasar cara pendang orang-orang umum! (yang menurutku semaunya sendiri menilai sesuatu) Seringnya aku jalan bareng dengan Neny berdua di kampus dan di kostnya, serta sekali-kali kalau ada motor pinjaman mengantar Neny pulang ke kost karena hari sudah sore dan tidak layak membiarkan seorang gadis berjalan pulang sendiri dari kampus maka aku-pun kadang-kadang mengantarnya. Kemudian, muncullah gossip (murahan) yang menuding bahwa Neny adalah pacarku. Awalnya aku tak ambil pusing dengan gossip ini. Karena aku kurang percaya kalau Neny mau menjadi pacarku. Suatu ketika di bulan Maret 2001, sehabis pulang dari Jogja untuk acara studi banding mahasiswa PTN dengan UNY salah satu teman dekat Neny mengajak bicara pada dan pembicaraan mengarah pada Neny. Dia bilang Neny itu mau saja menjadi pacarku asalkan aku mau mengungkapkan perasaanku padanya. Aku berfikir lama, hingga bulan Juli 2001, dengan mempertimbangkan segala kemungkinan, aku datang ke kostnya Neny pada malam sabtu sehabis hujan. Kedatanganku untuk mengungkapkan perasaanku padanya yang sesungguhnya. Aku katakan; “aku mencintai Neny sekarang, apakah Neny mau menerima sebagian hidupku menjadi sebagian hidup Neny yang lain?” tanyaku. Apa jawab Neny kemudian; “aku mau saja mas, karena aku juga memiliki perasaan sama. Tapi tolong beri saya waktu seminggu untuk memikirkan semuanya”. Jawabnya. “Kenapa harus seminggu? Itu sama saja menyiksa perasaanku! Jawabku dengan egois. “Iya, saya tahu mas, tapi sekarang aku sedang pusing dan bingung harus bagaimana?” Jawab Neny singkat saja. “Kalau boleh tau, memangnya sekarang kamu lagi ada masalah apa?” Tanyaku menyelidiki. “Jujur saja mas, kemarin malam ada juga teman sekelasmu yang bilang mencintaiku juga. Dia datang kesini (kost Neny-red) sendiri dan mengungkapkan hal yang sama seperti mas Yully lakukan malam ini”. Jawab Neny dengan terbuka. “Temanku sekelasku, siapa dia?” Tanyaku penasaran. “Mas Safru” Jawab Neny singkat. Safru adalah teman sekelasku yang pertama-kali aku kenal ketika menginjakkan kaki di PTN. Dia anak daerah pantura yang aku kenal baik, low profil, tenang, dan santun.

Kalau tau begini, aku mending tetap menyembunyikan perasaan ini”. Kataku dalam hati. “Nen, aku nggak bisa memaksamu untuk memilih aku atau Safru, tentukanlah pilihan sesuai kata hatimu sendiri dan nggak perlu terpengaruh denganku”. Kataku kemudian dengan suara yang berat. “Iya, mas akan aku tentukan pilihanku sendiri, tapi tolong aku beri waktu seminggu untuk menentukan pilihan yang terbaik buatku. Mas Safru juga belum aku kasih jawaban. Minggu depan aku janji memberi jawan itu”. Pinta Neny selanjutnya, sambil memberi tahu. “Ya aku manut saja, itu hakmu untuk menentukan pilihan sebagaimana aku dan Safru punya hak untuk sama-sama mencintaimu”. Kataku sambil menekan perasaan.

Besoknya hari minggu Neny dengan bis “Apollo” pulang ke rumahnya orang tuanya di Solo. Seminggu berikutnya hari sabtu, dia datang ke kampus dan menemui aku tepat jam 3 sore setelah sebelumnya kuliah dari jam 1 siang. “Mas, aku minta maaf sebelumnya. Aku telah memutuskan bahwa kita nggak perlu pacaran, meski aku juga mencintai Mas Yully. Karena aku tidak ingin persahabatan Mas Yully dengan Mas Safru hancur gara-gara aku. Kata Neny menjelaskan. “Yah nggak apa-apa, itu hakmu kok untuk menentukan pilihan apapun, termasuk kita nggak usah pacaran seperti keinginanmu tadi”. Kataku berusaha tegar dengan merasakan luka hati. “Ya aku minta maaf Mas, anggap saja aku ini adikmu dan cintai aku seperti adikmu, dan aku juga akan memberi jawaban yang sama kepada Mas Safru nanti malam”. Kata Neny meyakinkan. “Ya aku akan berusaha seperti itu, dan terima kasih kamu telah mengambil keputusan yang menurutku sangat bijak”. Kataku singkat. “Ya begitu saja Mas, udah sore aku mau pulang”. Kata Neny pamitan. Aku turun ke lantai 1 jalan bersebalahan dengan Neny. Sampai di halaman parkir aku melihat-lihat teman-temanku dengan harapan ada temanku yang bawa motor dan aku akan meminjamnya untuk ngantar Neny tapi tak kulihat satupun teman-temanku di halaman parkir depan kampusku. Aku setiap hari berada di kampus kerana memang saya tinggal di kampus selama 3 tahun dengan menempati sekretarian Himpunan Mahasiswa Jurusan bersama teman-teman mahasiswa lain berjumlah 5 orang. “Hati-hati di jalan dan terima kasih. Setelah ini aku pulang ke Wonosobo”. Kataku memberi tahu Neny. “Kalau pulang juga hati-hati Mas, juga terima kasih telah mengantarku sampai sini. Oh iya Mas, hari senin siang aku juga langsung pulang ke Solo lagi, paginya Neny masih ada ujian remidial kelompok”. Kata Neny singkat. “Oh iya to, kalau begitu selamat pulang kost dan selamat ujian besok hari senin ya”. Kata sambil berusaha ceria. Kulihat angkutan kampus membawa Neny pulang ke kostnya di Jln Pete No. 1. Sekaran Gunung Pati.

Berikutnya, sekitar jam 5 sore pada hari itu juga, aku langsung pulang ke Wonosobo. Ketika naik angkot dari Kampus ke Ungaran yang memang lewat di depan kostnya Neny, masih sempat kulihat Neny lagi duduk-duduk bersama teman-temannya yang rata-rata sudah aku kenal gara-gara aku sering datang ke kost itu. Dalam perjalanan pulang hati ini sakit, kecewa, gelisah, dan juga marah. Membayangkan bagaimana Neny akan mengatakan penolakan atas ungkapan cinta dari Safru yang juga temanku sendiri? Apakah Neny benar akan menolaknya seperti yang dikatakan padaku, karena ini malam minggu? Hatiku juga bertanya-tanya mengapa ini yang terjadi padaku? Kenapa tidak dari dulu aku mengungkapkan isi hatiku? Kepalaku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sementara tak kutemukan jawabanya. Hingga akhirnya jam 10 malam aku tiba di rumah bapak-ibuku, setelah jalan kaki dari Butuh karena memang uangnya tinggal 1.500 rupiah dan jelas kurang buat naik ojek yang tarifnya 2.000 waktu itu.

Bulan Juli 2001 tepat saat liburan semesteran bagi mahasiswa PTN. Selama hampir 3 minggu aku barada di rumah menikmati suasana kampung yang membuat hatiku damai dengan hanya berjumpa teman-teman masa kecilku di masjid ketika selesai sholat bersama. Selama dirumah ini aku berusaha mengobati luka hatiku. Beruntung Neny anak Solo jadi aku jadi sedikit memiliki kemudahan untuk melupakannya. Kerena jarak yang jauh dan terpisah oleh ruang dan waktu. Dan selama 3 minggu di rumah aku terhibur oleh kahadiran seorang cewek yang masih duduk di bangku SMA. Dia tergolong cewek yang polos, ceria, dan sederhana. Paling tidak itulah kesan pertamaku yang sebenarnya tetanggaku sendiri.

Kehadiran cewek SMA ini sungguh tidak sengaja dan tak terduga sama sekali. Bermula dari aku membantu – kebetulan pas tepat ada di rumah - panen jagung di sawah bengkok kakekku. Panen mulai dari pagi hari sekitar jam 08.00 pagi, saya bertiga dengan saudara-saudara sepupuku memanen jagung dan sesekali memanggulnya pulang kalau bagor tempat menaruh jagung sudah penuh. Dua kali memanggul jagung tau-tau hari sudah siang dan saatnya orang pada makan siang. Aku dan saudara-saudaraku isirahat makan, sholat dan pulang kerumah. Jam 13.30 aku kebali lagi kerumah kakekku kemudian membakar jagung yang sebelumnya aku simpan untuk di bakar. Aku membakar dua buah jagung sekaligus kemudian setelah mateng aku tenteng kedua jagung itu keluar rumah kakekku dan aku makan di depan rumah yang sudah selesai dibangun 90 % jadi namun belum ditempati. Aku makan 1 buah jagung bakar belum habis dan aku masih menyimpannya 1, sambil duduk dikursi reot di depan rumah itu kunikmati jagung bakarku sambil sesekali menjawab sapaan orang-orang yang kebetulan lewat di depanku, karena rumah itu tepat berada di pinggir jalan.

Dari jauh sudah terdengar suara knalpot motor Honda tahun 70-an yang kemudian kulihat motor itu di naiki oleh cewek ABG dengan baju putih abu-abu dan berjilbab. Dia lewat aja di depanku sambil senyum dan langsung belok kanan langsung nylonong menerobos pintu yang terbuka hanya tersentuh roda depan motor itu, kemudian Ia memasukkan motor itu kedalam rumah itu dengan mesin masih berbunyi. Kubalas senyuman itu sambil tetap duduk dan terus mengunyah jagung bakarku. Aku sudah sangat kenal dia, malahan ketika aku masih SMA dulu aku berlatih Kempo bareng dengannya. Dia salah satu dari dua orang kenshi perempuan yang berlatih bersamaku. Ketika itu dia masih duduk di bangku SMP. Ary nama aslinya, tetapi orang-orang sekampungku memanggilnya Wiwid. Panggilan ini diambil dari nama belakangnya yaitu, Widyaningrum. Mungkin dari berita mulud ke mulud aku sudah tau kalau dia sekolah di Smuker, sekolah yang baru tahun 1998-1999 berdiri. Tak lama kemudian cewek SMA itu keluar rumah masing dengan menggendong tas sekolahnya kemudian menyapaku. “Hai kamu pulang kapan? Tanyanya. “Kemarin hari minggu”. Jawabku singkat. “Lagi liburan ya?”. Tanyanya lagi. “Iya, liburan semesteran, habis ujian dua minggu lalu”. Jawabku lagi. “Kamu baru pulang juga”. Tanyaku, sambil tetap mengunyah jagung bakar. Aku mikir pertanyaan bodoh sekali ini, sudah tau baru pulang kok tanyanya begitu! Beruntung cewek itu tidak mengomentari pertanyaanku yang bodoh itu. “Iya nih”. Jawabnya singkat. “Kalihatannya kok enak banget makan jagung bakarnya”. Sindirnya ringan. “Iya memang enak, masih enom lagi, aku masih punya 1 buah, kamu mau?”. Jawabku sambil menawarkan jagung bakar padanya. “Mana? Aku suka jagung bakar”. Jawabnya singkat. Aku berikan jugung bakar yang tadinya aku letakkan di sampingku kepadanya. Dia terima begitu saja dan memakannya setelah sebelumnya berusaha membersihkan abu kecil-kecil yang masih menempel di jagung bakar itu. Kemudian aku persilahkan dia duduk di sebelahku yang kebetulan kursi itu muat untuk duduk lebih dari 2 orang, tepatnya mungkin muat untuk duduk bertiga meski empet-empetan. Aku dan Ary duduk berdampingan dalam satu kursi yang cukup besar itu yang tentunya masih ada jarak yang memisahkan tubuh kami. Pelan-pelan seperti sifat kebanyakan perempuan, Ia makan jagung itu satu persatu. Pikirku dalam hati, “cewek ini supel juga ya sekarang, dan kelihatannya telah berubah sekarang setelah hampir tiga tahun aku jarang melihatnya, meski tinggal sekampung”. Kemudian dia bertanya-tanya tentang karya tulis kepadaku, karena kabetulan saat itu dia sudah kelas tiga dan telah melaksanakan studi tour ke Bali. Sebagai syarat mengikuti ujian akhir di sekolahnya, dia di wajibkan menulis sebuah karya tulis.

Eh aku mau tanya nih, boleh nggak?”. Tanya Ary padaku dengan agak canggung. “Udah tanya aja, kalau aku bisa jawab langsung, sekarang juga aku jawab, kalau tidak bisa jawab sekarang, biar aku belajar dulu atau buka-buka buku buat cari jawabannya”. Jawabku sambil ngeledek dan tertawa kecil. Dalam hati aku berucap, tampaknya cewek ABG ini koq santun sekali, atau jangan-jangan perasaanku saja yang lagi patah hati dengan Neny, singgga perasaanku jadi sensitif! “Ah…, kamu gak perlu belajar dulu untuk beri jawaban itu, kamu kan sudah mahasiswa, pasti tau”. Sanggah Ary kemudian. “Memang kamu mau tanya apa? Sudahlah tanya aja sekarang, siapa tau aku bisa menjawabnya?”. Tanyaku meyakinkan. “Kalau bikin karya tulis itu bagaimana sih? Soalnya sekolahanku mewajibkan pada setiap siswa untuk buat itu sebagai syarat ikut ujian akhir”. Kata Ary pelan menjelaskan. “Oh itu…., setahuku karya tulis itu ditulis dengan mengikuti sistemetika penulisan karya ilmiah”. Jawabku singkat sambil berujar dalam hati, mau tanya gitu aja koq malu-malu, dasar cewek ABG masih suka jaga gengsi. Tapi nggap apa-apa, aku senang koq. “Nah itu yang aku belum tau, emangnya bagaimana kalau menulis berdasarkan sistematika penulisan yang ilmiah itu?”. Tanya Ary kemudian dengan responsif. Aku mbatin, ini cewek rasa ingin tahunya besar banget, wah bisa dijadikan teman ngobrol nih! “Sistematika penulisan karya ilmiah itu yang aku tau, ada latar belakang masalah tentang persoalan yang mau ditulis, ada rumusan masalahnya, ada tujuan dan manfaat penulisan, ada dasar teorinya, ada pembahasan, adan kesimpulan dan saran-sarannya, dan terakhir penutup. Emangnya, kalau boleh tau kamu mau nulis tentang apa?”. Jawabku berusaha menjelaskan sambil bertanya padanya. “Aku mau nulis tentang Bali, kemarin belum lama aku pergi kesana”. Jawab Ary dengan ringan. “Oh ya? Dengan siapa kamu pergi kesana?” Kataku kemudian. “Dengan teman-temanku yang sudah kelas tiga-lah, karena itukan sekalian study tour di Bali”. Jawab Ary dengan bangga. “Eh…., lha…. Kamu sudah pernah pergi ke Bali belum?”. Tanya Ary cepat-cepat. “Aku belum pernah pergi ke Bali”. Jawabku ringan. “Aku yang masih SMA aja sudah pernah ke Bali, kamu yang sudah jadi mahasiswa koq belum pernah pergi kesana, ha…, ha…., ha….”. Kata Ary ringan sambil bercanda mengejekku. “Untuk bisa menulis tentang Bali tidak perlu harus pergi ke Bali koq. Aku bisa menulis tentang wisata di Bali meski aku sendiri belum pernah ke sana”. Jawabku membela diri, sambil mbatin maklum ajalah, cewek masih ABG, memang suka bangga diri, ceplas-ceplos dan apa adanya. Tapi aku suka cewek yang supel seperti ini. “Emang kamu bisa?”. Tanya Ary kemudian dengan agak meragukan ucapanku. “Iya, aku bisa menulisnya, kamu nggak percaya? Apa aku perlu menuliskan itu buatmu”. Kataku kemudian dengan percaya diri meyakinkan kalau aku bisa menulis tentang Bali meski belum pernah pergi ke Bali, setelah sebelumnya agak ngonduk karena merasa diremehkan. “Ya aku mau saja dibuatkan, siapa sih orangnya yang tidak mau diberi bantuan. Tapi itu tidak merepotkanmu kan?”. Jawab Ary sambil bertanya. Dalam batinku aku berkata, inilah saatnya membuktikan bahwa untuk menggambarkan sesuatu objek tidak harus mengunjungi dan melihat objek itu, cukup dari buku-buku referensi yang berbicara tentang objek itu aja sudah cukup bagiku. “Ah…, nggak merepotkan, lagian aku kan lagi liburan semesteran, jadi aku nggak ada kegiatan. Tapi apa kamu punya bahan-bahannya yang kamu dapatkan dari Bali, seperti brosur, buku-buku sosialisasi tentang objek wisata di Bali, dan lain-lainnya?”. Kataku berusaha meyakinkan Ary sambil bertanya padanya. “Ya aku punya bahan-bahan itu, tapi masih ada di teman-temanku, soalnya teman-temanku juga sudah pada mulai menulisnya”. Kata Ary kemudian. “Ya kamu kumpulkan bahan-bahan yang masih ada di teman-temanmu itu, nanti kalau sudah terkumpul serahkan padaku supaya aku bisa cepat menulisnya”. Kataku berikutnya. “Ya nanti aku kumpulkan, tapi mungkin tidak bisa cepat, masalahnya bahan-bahan itu masih dipakai teman-temanku untuk menulis karya tulis itu”. Kata Ary. “Kamu kumpulkan aja dulu, setelah kumpul semua baru kamu serahkan aja padaku. Kamu ingin temanya tentang apa?”. Tanyaku kemudian. “Pokoknya tentang pariwisata yang ada di Bali”. Jawab Ary singkat. “Ya sante aja, pokoknya tentang itu to? Nanti biar aku aja yang bikin temanya, tapi kalau kamu punya usulan tema itu lebih bagus”. Kataku. “Iya nanti biar aku coba pikirkan itu”. Kata Ary menanggapi. “Aku minta dikirimkan padaku aja semua bahannya kalau sudah ada, sekalian tema yang kamu inginkan, karena aku besok berangkat ke Semarang lagi”. Kataku memberitahu. “Katanya lagi liburan, kenapa besok mau pergi ke Semaranag?”. Tanya Ary dengan heran. “Memang lagi liburan, tapi meski libur masih banyak teman-temanku yang ada di sana. Jadi dari pada kau dirumah aja, mendingan aku di Semarang bareng teman-temanku. Di sana aku bisa bebas, tidak terbebani dengan urusan rumah”. Kataku kemudian. Memang aku sadari, ketika masih kuliah S1 aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanku hanya untuk diskusi, kuliah, bikin acara seminar, samapi ikut demonstrasi yang semua aktivitas itu bergelut hanya dengan pikiran saja. Sementara sisi perasaanku yang sebenarnya sensitif kurang mendapatkan perhatian, sehingga dalam hidup dan berhubungan dengan orang-orang termasuk dengan perempuan aku lebih rasional ketimbang mengedepankan perasaan. Dengan begitu munculah diriku sebagai pribadi yang cuek, apa adanya, urakan, suka protes, kritis, banyak pertimbangan, bimbang ketika mau mengambil keputusan sehingga perlu banyak bicara dengan teman-temanku.

****

Hari ini aku benar-benar terjebak dalam kenaifan yang tiada tara, menyalahkan diri sendiri atau tepatnya menyesali diri terhadap apa yang telah terlewati di belakang hari. Sejujurnya menurut aku sendiri apa-apa yang telah aku lakukan selama ini telah sesuai dengan kata hati nuraniku. Dimana aku gagal sewaktu nglamar dosen PTN tahun 2003 lalu karena ada intervensi lain yang diluar kemampuanku yang menjadikan rivalku yang mendapatkan pekerjaan itu. Dengar-dengar sih karena Ia bayar 25 juta rupiah sehingga Ia bergelimang kesuksesan mendapatkan pekerjaan sebagai dosen itu. Itupun kata Edy S yang sekarang juga jadi dosen PTN setelah sebelumnya jadi asisten dulu selama kurang lebih dua tahun. Dia dapat informasi itu, katanya dari salah seorang dosen PTN juga yang kebetulan suaminya yang juga seorang dosen di PTN waktu itu menjadi sekretaris jurusan. Sang dosen perempuan itu yang juga istri sekretaris jurusan itu, tidak begitu suka dengan dosen baru temanku yang mengalahkanku waktu seleksi ketika itu.

Coba seandainya kabar burung itu benar, kalau kakak kelasku itu jadi doesn karena nyogok 25 juta, apa seandainya aku yang di tawari untuk nyogok mampu untuk bayar sejumlah itu? Dari mana aku mendapatkan uang sebesar itu? Mungkin orang tuaku bisa bantu cari atau tepatnya utanglah atau lebih naif lagi jual sepetak tanah yang biasanya ditanami padi buat makan di kampung sana. Mungkin saja seperti itu ya kali supaya aku tidak menyesal sekarang!

Sedikitnya 3 orang penguji dari 5 orang yang satu orang – entah karena apa - tidak datang menguji waktu wawancara bulan desember 2003 menyatakan langsung kepadaku meski dalam waktu yang tidak bersamaan, “iki jujur-jujuran wae, nilaimu itu bagus paling tinggi saat wawancara, tapi sayang nilaimu jatuh di pusat saat ujian tulis”. Hardjono memberitahuku. Dalam waktu yang berbeda Budiyono mengatakan, “wah kamu itu kalah di nilai bahasa Inggris, jadi dia yang jadi”. Hampir sama seperti yang diungkapkan Budiyono, Sutomo juga mengatakan, “kowe kalah nang nilai bahasa inggris, piye rak popo to?”. Kalau mendengar ucapan mereka, dalam hati kecilku mengatakan, sudahlah nggak apa-apa terima saja kekalahan itu dengan ikhlas dan lapang dada, memang itu bukan rejekimu, aku yakin Tuhan masih menyisakan yang terbaik bagiku. Namun sejujurnya apabila dikaitkan dengan issu nyogok tadi hati kecilku mengutuknya. Masa lembaga akademik yang sebagian orang masih menganggapnya mulia di susupi praktek-praktek suap yang memalukan itu?. Kalau memang kejadiannya seperti itu, memang ada praktek suap-menyuap dalam rekruitment dosen di PTN sana, kayaknya relevan apa nasehat temanku yang sekarang juga jadi dosen di situ, “kemampuan saja tidak cukup, masih ada hal-hal lain faktor X yang lebih menentukan selain kemampuan, itu bukan kekalahan melainkan kesuksesan yang tertunda”. Ya semoga benar demikian, tapi kapan kesuksesan yang tertunda itu datang padaku yang saat ini sedang kelimpungan karena himpitan ekonomi dan tuntutan meringankan beban orang tua?.

Waktu setiap saat berubah dan aku ikut berubah dalam perubahan itu sendiri. Kecewa gagal dalam kesempatan pertama tahun 2003 cukup terobati dengan perubahan waktu yang membawaku hanyut dalam kahayalan mendapatkan pekerjaan setelah membantu teman dalam menyelesaikan perkuliahan. Kakaknya Dr. Belrt Kambuaya, MBA. Adalah rektor Uncen (Universitas Cendrawasih) di tanah Papua jauh di ujung timur Indonesia yang di lantik tanggal 15 Juli 2005 di kantor Depdiknas pusat Jakarta. “Mas jadi dosen itu mudah saja, sekarang bantu kakak dulu selesaikan kuliah nanti kamu jadi dosen di Uncen saja”. Kata sahabatku Fred, yang mau di promosikan menjadi kepala dinas Bapedalda Kota Sorong itu. Waktu itu aku cukup percaya mengingat yang saya tau orang papua tidak pernah main-main dengan apa yang dibicarakannya. Aku juga kenal akrab dengan dia, kurang lebih 15 bulan saya dengan kakak Fred terus bersama, apa yang ia makan aku makan juga, keculai 1 makanan yaitu B2. dia makan tapi aku tidak. Asal tau saja kita beda keyakinan, dia kristen protestan sedangkan aku muslim. Tetapi selama kita bersama ia tidak mempersoalkan itu. Aku pikir kakak Fred memiliki tingkat toleransi yang tinggi juga. Mungkin bukan hanya dia melainkan semua orang papua. Karena minimal semua orang-orang papua yang aku kenal juga demikian.

Banyak teman-teman sekelasku di jurusan S2 sosiologi yang ngriri melihat kebersamaan aku dengan kakak Fred. Aku dengan kakak Fred terpaut jauh usia, aku kelahiran 79 sementara dia lahir tanggal 7 Februari 1960. tetapi yang aku salut dia bisa menyesuaikan diri dengan gaya dan sifatku yang masih muda dan sederhana, itupun kata kakak Fred. Ada salah seorang teman dengan nada nyingyir bilang padaku dan teman-temanku, “itu sudah ditunggu bossmu, asisten pribadi itu siap setiap saat katika dibutuhkan”. Aku yang mendengar ucapan itu hanya senyum-senyum saja. Pikirku selama hubungan itu masih mutualisme kenapa mesti di akhiri hanya karena ungkapan-ungkapan dari orang-orang yang iri? Pertanyaanku dalam hati saja.

Meski sudah berkepala dua kakak Fred cukup mengerti dengan perasaanku. Katika aku jatuh cinta dengan seorang gadis metropolitian mahasiswa s1 sosiologi UGM dia memberi suport yang luar biasa, dengan memberi aku uang untuk ajak cewek itu makan malam, meski aku belum pernah ajak cewek itu makan malam, pinjami hand phone-nya untuk telelpon cewek itu. Puri Kencana Putri nama gadis itu. Puri pernah pinjami aku buku “kekuasaan dan kekerasan” milik johan galtung yang ditulis Marsana Windu. Kita sering ketemu dia di Insist milik Dr. Mansour Fakih yang meninggal 16 Februari 2004. aku dan dia datang melayat kesana, dan inilah tanggal aku pertama kali berkenalan dengan Puri. Dulu kita begitu enak saling bercanda dan berbicara, namun tidak tahu karena apa, aku dengan puri jadi amat sangat jauh, setelah sebelumnya aku dengan Puri, tanggal 9 maret 2004 nonton bersama pementasan teater “orang-orang yang bergegas” di purna budaya UGM oleh AKY Jogja. Aku jemput dia di kostnya gang flamboyan CT 3 No. 15, setelah sebelumnya dengan hp bang ottis bless aku telepon dia untuk aku ajak nonton teater itu. Dia mau dan ketika tiba di purna budaya puri ketemu dengan temannya ria dan bilang, “Pur kamu ini gimana sih, tadi jam 5 aku telepon katanya nggak mau nonton sekarang malah datang dengan temannya bang Amos lagi”. Puri hanya senyum-senyum saja sambil minta maaf pada ria. Katika itu aku kaget mendengar hal itu, tapi pikiranku tidak mau berandai-andai tentang apakah puri menaruh simpati padaku?. Kalau tidak kenapa hal itu terjadi. Setelah kejadian itu, puri susah sekali di telepon. Kadang hp tidak aktif, kalau aktif kadang tidak diangkat. Akhirnya aku dengar kabar bahwa hp puri kecopetan di bis kota waktu mau pulang dari kampus. Sejak itulah komunikasi aku dengan Puri putus. Baru kemudian kita ketemu secara tidak sengaja tanggal 13 Mei 05 pada acara bedah buku “Sentralisasi Ekonomi Indonesia Tahun 78-96” karya Rizal Mallarangen di ruang seminar Fisipol UGM. Aku serahkan bukunya setelah sebelumnya buku itu aku bawa terus setiap saat saya pergi ke kampus. “Pur ini bukumu aku kembalikan, mohon maaf terlalu lama, karena saya menghubungimu tidak pernah bisa, dan ini aku bawa terus setia kali aku ke kampus”. Kataku sambil njawil pundak kiri piri. “Oh iya mas, terima kasih, baru sekarang katemu ya”. Kata puri menanggapi. “aku yang terima kasih, maaf terlalu lama”. Kataku kemudian. Setelah itu itu aku pergi dari sampingnya dan aku asyik dengan kegiatanku makan macam-macam buah yang disediakan panitia. Aku lihat Puri asyik ngobrol dengan teman-temanya sambil memegang piring sambil menikmati menu makanan yang disediakan panitia juga. Puri pergi hingga kini kita tak pernah ketemu kembali.

Tanpa terasa keberamaan saya dengan kakak Fred mendekati dekatik-detik terakhir. Bulan juni 2004 kakak Fred pulang ke tanah papua untuk penelitian setelah sebelumnya mengikuti ujian komprehensif di jurusan, meski hanya mengantongi nilai B dia senang karena mendapatkan dosen pembimbing yang enak, mudah, dan yang lebih penting toleran. Selama dia ada di sana aku menikmati Jogja masih bersama teman-teman kakak fred yang rata-rata aku kenal lewat beliau. Ada Yahya Kombado, Ottis Bless, Yanpit Basna, Mecu Salakh, Mr. Markus Sroung, Bang Dolfi, Owaf, Mikhel, dan bang Man Fred yang biasa di panggil Mate saja.

BERSAMBUNG!

Posted by Uut at 07:55:29 | Permalink | Comments (1) »

Tuesday, December 2, 2008

UNTUK DIRENUNGKAN OLEH MAHASISWA KURTEKDIK

DEKONSTRUKSI KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Oleh: Yuli Utanto, M.Si

PERUBAHAN pasti terjadi, karena perubahan hanya soal waktu. Perubahan social order dan tata dunia baru menuju era informasi telah melahirkan tantangan nyata bagi dunia pendidikan. Saat ini kita bukan hanya hidup di millenium baru, melainkan tengah manapaki era baru yakni; era informasi. Hadirnya semua perubahan yang serba pesat dan mencakup totalitas sendi kehidupan manusia. Tentu saja membutuh cara-cara baru dalam berfikir dan bertindak untuk dapat mencapai kesejahteraan dan kedamaian hidup manusia. Kondisi semacam ini tentu saja sungguh-sungguh memerlukan kontribusi pemikiran yang kritis lagi kreatif dari rumpun ilmu pendidikan, khususnya Kurikulum Teknologi Pendidikan yang memiliki wewenang menentukan arah dan proses pembelajaran, agar masyarakat tidak mengalami gegar budaya. Sebaliknya, justru memiliki kesadaran budaya yang lebih proaktif lagi produktif dalam konteks perubahan menuju tata dunia beru, sehingga mampu membangun eksistensinya menjadi lebih baik lagi.

Bersamaan dengan hadirnya era informasi yang tengah melanda dunia pendidikan tersebut, selama ini kehadiran Kurikulum Teknologi Pendidikan cenderung dipahami sebagai wahana siap isi yang bentuknya hanya akan sangat tergatung (depend on) dari hasil kolaborasi antara pemilik pesan, perancang pesan, dan subyek sasaran penerima pesan. Kehadiran Kurikulum Teknologi Pendidikan hanya menjadi focus perhatian pada tingkat perancangan dan pengembangan semata. Sementara pada tingkat implementasi sangat lemah control dan intervensinya.

Selama ini rancang-bangun Kurikulum Teknologi Pendidikan sangat kental warna pemikiran yang bercorak constructivism yang mengandalkan segala hal peristiwa belajar dan perolehannya dapat dibangun melalui penyediaan Kurikulum Teknologi Pendidikan yang telah baku. Kolaborasi antara psikologi behavioristic dan constructivistic yang hadir dalam bentuk kurikulum dan teknologi pendidikan inilah yang selama ini merajai cara pandang kurikulum dan teknologi pendidikan sebagai suatu keniscayaan. Terjadinya hal yang demikian karena kerangka berfikir yang melandasi beroperasinya kurikulum dan teknologi pendidikan sangat lekat dengan paradigma psikologi behavioristic. Akibatnya, kurikulum dan teknologi pendidikan kemudian berperan sebagaimana “juklak” (petunjuk pelaksanaan) sehingga corak san ragam kegiatan belajar sangat tergantung pada teknologinya, juga perolehannya ditentukan oleh beroperasinya teknologi pendidikan yang dipilih. Kondisi semacam ini menjadikan peran guru sebagai fasilitator bukan hanya tidak relevan melainkan juga tidak mampu mengekplorasi beragam kebutuhan belajar. Dengan demikian, pembelajaran semacam ini menjadi dipertanyakan kembali kebermaknaannya. Rendahnya mutu pendidikan, tidak relevannya produk pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, tidak meratanya kesempatan belajar dan tidak bermaknanya pembelajaran adalah inventaris masalah sekaligus “mimpi buruk” yang tengah melandan republic ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apa yang dapat dilakukan oleh Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dalam menjalankan perannya sebagai penentu arah proses pembelajaran? Bagaimanakah peran yang hendak dimainkan oleh Kurikulum dan Teknologi Pendidikan di masa-masa yang akan datang dalam menapaki perubahan menuju era informasi yang tengah melanda dunia pendidikan?.

Makna Pembelajaran di Era Informasi

Era informasi yang ditandai dengan hadirnya revolusi teknologi informasi telah “memaksa” munculnya fenomena baru dalam masyarakat yang kemudian dikenal dengan information based society. Siap atau tidak siap dunia pendidikan dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan ini, jika tidak ingin terlindas pada ghalibnya revolusi teknologi informasi. Lebih dari itu, dunia pendidikan dituntut untuk mampu menjawab tantangan perubahan jaman di era informasi ini.

Dalam kondisi semacam inilah kemudian peristiwa belajar masyarakat, perilaku belajar, dan makna belajar masyarakat perlu diformulasikan kembali dengan cara meredefinisi makna pembelajaran. Kurikulum dan Teknologi Pendidikan apabila dihadapkan pada perubahan menuju era informasi ini kemudian sungguh-sungguh membutuhkan makna dan formulasi baru sehingga perlu meredefinisi eksistensinya, supaya mampu menjadi bagian dari perubahan jaman bukan malah menjadi obyek perubahan. Sedikitnya, terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan untuk bisa membangun kembali paradigma pembelajaran serta kurikulum dan teknologi pendidikan di era informasi sekarang ini. (1) adalah perlunya ditinjau ulang paradigma psikologi pendidikan tentang potensi belajar. (2) perlunya perubahan paradigma tentang keberbakatan sebagai titik pusat keunggulan. (3) perubahan social yang tengah melanda masyarakat, mencakup institusi keluarga, kultur dan struktur social, dunia kerja, dunia pergaulan; termasuk percepatan kematangan seksualitas remaja dan tanggungjawab moral remaja, sangkar besi media audio visual, demokratisasi dan pluralisme masyarakat.

Kehadiran kurikulum dan teknologi pendidikan yang cenderung menjadi semacam “petunjuk pelaksanaan” yang telah baku apabila dihadapkan pada konteks perubahan menuju era informasi menjadi tidak relevan lagi. Hal ini lebih dikarenakan setiap individu siswa membutuhkan terjadinya proses dan peristiwa belajar yang berdimensi lebih luas dari sekedar apa yang dipreskripsikan oleh sebuah kurikulum dan teknologi pendidikan itu sendiri. Seiring gerak langkah perubahan menapaki era informasi sekarang ini, peristiwa belajar dengan sendirinya akan bercorak multidimensional yang kehadirannya mau tidak mau harus melibatkan pemikiran bersifat kontingensial dan pengambilan-pengambilan keputusan yang bersifat transaksional berdasarkan posisi tawar yang dimiliki masing-masing individu. Diakui atau-pun tidak, hal semacam inilah yang selama ini gagal dijadikan egenda prioritas utama pemikiran para pengembang kurikulum dan teknologi pendidikan. Pergeseran paradigma berfikir yang melandasi peran, kehadiran, serta eksistensi kurikulum dan teknologi pendidikan adalah sebuah keniscayaan, mengingat munculnya tantangan baru akibat perubahan menuju era informasi serta perubahan social masyarakat tak bisa diabaikan oleh dunia dunia pendidikan. Singkatnya, dunia pendidikan tak bisa berpaling dari proses perubahan social ini. Dengan demikian, sudah selayaknya kerangka berfikir yang melandasi beroperasinya kurikulum dan teknologi pendidikan perlu dikritisi keberadaannya. Lebih dari itu, kerangka berfikir para pengembang sekaligus pengguna kurikulum dan teknologi pendidikan perlu mendapat formulasi baru dengan cara meredefinisi kerangka berfikirnya. Sehingga upaya-upaya mengkaji ulang, mengkritisi dengan analisis kritis yang penuh kecurigaan demi kabaikan, pembongkaran kerangka berfikir, dan penggantian paradigma baru yang lebih relevan adalah keniscayaan. Semua ini bisa berjalan jika ada “kelapangan” para pengembang kurikulum dan teknologi pendidikan dan toleransi tinggi untuk menyesuaikan dengan situasi baru yang tengah kita jalani.

Belenggu Problem Eksistensial

Pertanyaan mendasar tentang apa yang dapat dilakukan oleh Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dalam menjalankan perannya sebagai penentu arah proses pembelajaran? Dana bagaimanakah peran yang hendak dimainkan oleh Kurikulum dan Teknologi Pendidikan di masa-masa yang akan datang dalam menapaki perubahan menuju era informasi yang tengah melanda dunia pendidikan?. Adalah pertanyaan penting yang mendesak untuk dicarikan jawabnnya. Mengingat Kurikulum dan Teknologi Pendidikan yang sungguh-sungguh memiliki wewenang berharga sebagai penentu arah proses pembelajaran – diakui ataupun tidak – telah lama “mandul” karena terus-menerus tengah bergulat dengan aksistensinya sendiri yang masih berusaha mati-matian untuk mendapatkan bentuknya yang ideal, sehingga belum mampu memberikan “pencerahan” atas berbagai persoalan pendidikan yang selama ini muncul dan praksis pembelajaran siswa di sekolah.

Lebih dari itu, Kurikulum dan Teknologi Pendidikan juga belum sanggup dan kekurangan “stamina” untuk mampu dengan lantang mengartikulasikan temuan dan kepentingannya di tengah-tengah perubahan social masyarakat. Ketidakberdayaan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dalam memberi jawaban dan solusi atas perubahan-perubahan dalam dunia pendidikan sekarang ini telah memberi ruang yang longgar bagi berlangsungnya proses indoktrinasi dan membuka jalan bagi penerapan “sangkar besi” proses pembelajaran yang bersifat prescriptive atas kemerdekaan berfikir siswa. Akibatnya, kreativitas dan dan sense of critic siswa terpangkas dengan sengaja. Secara kasat-mata, hal ini bisa dibuktikan dengan semakin carut-marutnya wajah pendidikan di republic ini. Sehingga relevan apabila Sindhunata menuliskan; “pendidikan hanya menghasilkan air mata”. Belum lagi ditengarai adanya intervensi “pihak luar” yang semakin kuat menekan proses pendidikan dengan cara menyusupkan kepentingan-kepentingannya demi mencapai tujuan-tujuannya di masa mendatang. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya proses kapitalisasi pendidikan. Proses kapitalisasi pendidikan menentukan arah kebijakan dan substansi pendidikan pada wilayah wacana maupun praksis pendidikan dan pembelajaran. Seperti kepentingan korporasi-korporasi besar atas dunia pendidikan yang butuh tenaga professional siap pakai. Ringkasnya, Kurikulum dan Teknologi Pendidikan belum sanggup membidani lahirnya proses pembelajaran yang memberi peluang luas kepada siswa untuk mengembangkan kepribadiannya yang otentik; yang pandai merubah tantangan menjadi peluang; mampu menciptakan harmoni dan pluralisme budaya masyarakat dan beragamnya cara pandang. Semantara itu, masyarakat pendidikan – kalau tidak ingin dikatakan tak sanggup – belum mampu atau bahkan tidak mampu berbuat banyak untuk mengobati “kemandulannya” apalagi memberikan pencerahan atas berbagai persoalan pendidikan, dan yang lebih penting lagi lepas dari campur-tangan, intervensi, dan proses kapitalisasi pendidikan yang jelas-jelas hanya mengutamakan kepentingan-kepentingannya pemodal.

Tantagan-tantangan di Masa Mendatang

Setidaknya ada terdapat tiga peran ideal yang patut dimainkan oleh Kurikulum Teknologi Pendidikan di masa mendatang. Peran ideal itu antara lain; (1) sebagai “pusat keunggulan” atas beragam pemikiran tentang teori pendidikan dan proses pembelajaran ideal yang mampu memberikan sumbangan bagi lahirnya pembelajaran dan mampu memberikan sumbangan (membidani) bagi lahirnya pembelajaran yang mengembangkan dimensi kemanusiaan siswa. Dalam konteks inilah Kurikulum Teknologi Pendidikan menjadi lahan sekaligus memediasi persemaian gagasan bagi para pemikir muda (mahasiswa) yang memiliki concern dan commitment tingga terhadap perkembangan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. (2) Kurikulum Teknologi Pendidikan idelanya mampu memainkan peran sebagai “tangki pemikir” yang sanggup melahirkan paradigma baru pendidikan sekaligus menjawab tantangan perubahan jaman. Dalam konteks ini, Kurikulum Tekanologi Pendidikan idealnya mampu membidani lahirnya figur-figur pemikir tentang pendidikan masa depan. Menempatkan akademisi-akademisi yang memiliki kepribadian independent yang sanggup menelurkan gagasan-gagasannya sekaligus memperjuangkannya. Bukan menempatkan academic client; akademisi yang tidak profesional, kacangan, dan hanya membebek pada kepentingan negara adalah akademisi yang semakin membuat carut-marut wajah Kurikulum Teknologi Pendidikan. (3) Hal yang tak kalah pentingnya adalah eksistensi Kurikulum Teknologi Pendidikan sendiri. Secara institusional idealnya Kurikulum Teknologi Pendidikan harus sanggup memainkan peran sebagai presure group atas beragam regulasi kebijakan pendidikan dan praxis teknologi pendidikan di sekolah dan universitas yang berbasis pada teori-teori perubahan sosial dan teori-teori belajar sosial yang memenuhi standart akuntabilitas ilmiah.

Lewat peran-peran ideal inilah Kurikulum Teknologi Pendidikan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap siklus dinamika perkembangan pendidikan dan pembelajaran pada satu sisi, dan pada sisi yang lain berbasis Teknologi Pendidikan yang mantap niscaya mampu menjawab tantangan perubahan jaman dengan memberikan pencerahan kepada warga belajar dalam proses pembelajarannya. Dengan kontribusi yang nyata seperti itulah eksistensi Kurikulum Teknologi Pendidikan niscaya semakin berkibar dan menebar harum pesona dan yang lebih penting mampu menjadi salah satu elemen kuat bagi terwujudnya civil society organization yang mampu hidup dalam alam demokrasi.

Apabila semua itu dapat dilakukan oleh Kurikulum Teknologi Pendidikan sebagai institusi maupun sebagai academic culture, niscaya eksistensi Kurikulum Teknologi Pendidikan akan sangat dihargai tidak dipandang sebalah mata dan yang lebih penting tidak dipandang sebagai warga civitas akademika kelas dua yang remehkan. Tanpa mampu menunjukkan karya nyata niscaya keberadaan Kurikulum Teknologi Pendidikan tidak lebih hanyalah sebagai fosil usang yang memudar maknanya. Semua itu berpulang pada penggede-penggede Kurikulum Teknologi Pendidikan yang sekarang memegang kendali penentuan figur-figur calon dosen yang akan direkrut sebagai akademisinya; apa yang harus dan bisa mereka lakukan untuk membangun eksistensi dan paradigma baru Kurikulum Teknologi Pendidikan mendatang.

Menyemai Paradigma

Kurikulum Teknologi Pendidikan idealnya mampu memproduksi fluid learning environment yang memungkinkan setiap individu peserta belajar leluasa melakukan eksplorasi dan pencarian maknna setiap persoalan yang dihadapi; menemukan kemungkinan alternatif lain aneka pemecahan masalah yang berbasis pada potensi diri (bakat) yang dimiliki masing-masing individu. Diakui atau tidak, setiap individu memiliki problem eksistensial yang beragam dan berbeda satu dengan lainnya, karenanya sungguh-sungguh tidak relevan dan tak memadahi apabila mereka diformat untuk belajar secara sama (masive). Dalam konteks ini design Kurikulum Teknologi Pendidikan yang selama ini memiliki corak prescriptive yang mendorong perilaku belajar massive dan seragam sudah selayaknya dikritisi dan yang lebih penting segera diakhiri. Dengan demikian, paradigma konstruksionisme dan behaviorisme sudah selayaknya dibongkar dan diakhiri penerapannya. Sebagai gantinya, kemudian diusulkan untuk diterapkan paradigma humanisme dan eksistensialisme dalam mendesign dan menciptakan lingkungan belajar yang menantang dan menyenangkan.

Lingkungan belajar dimanapun selayaknya didesign supaya mampu menghadirkan keleluasaan pilihan belajar dengan memberikan “kemerdekaan” kepada individu untuk melakukan elaborasi wacana dan tema-tema persoalan yang menantang begi terjadinya proses belajar. Lebih lengkap lagi, kemudian proses belajar didukung perangkat multimedia yang memungkinkan terjadinya proses perolehan pengetahuan, pencerahan hati-nurani, dan pemahaman atas sebuah persoalan, sehingga kemudian dapat mengembangkan suatu produk yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi dalam hidup; sekaligus merancang masa depan sesuai dengan visi dan misi kehidupan siswa masing-masing.

Pada level yang luas (macro), seperti apakah wujudnya? Setiap pokok bahasan atau materi pelajaran hendaknya dapat diakses melalui beragam teknologi pendidikan yang menyajikan beragam kemungkinan belajar bagi siswa. Bagaimana dengan bentuknya? Model-model belajar siswa seperti participatory learning dan experimental learning sangat menantang bagi terjadinya kesadaran kritis bagi setiap individu (siswa) dalam menghadapi dan menyelesaikan problem-problem eksistensialnya masing-masing.

Reorientasi Kurikulum

Memperhatikan perombakan seperti di atas maka kemudian dipandang perlu dipertanyakan dan dikaji ulang, apakah tenaga profesional (dosen) dan mahasiswa (calon tenaga profesional) di bidang Kurikulum Teknologi Pendidikan telah memiliki visi tersebut? Jika tidak! Maka lonceng kematian profesi Kurikulum Teknologi Pendidikan sudah di ambang pintu! Kemudian peranannya akan segera digantikan oleh khalayak praktisi luas seperti production house, media planner, designer grafis, dan aktivist media. Apa yang perlu dilakukan sekarang? Adalah memahami dan mengakomodasi secara kreativ segala perubahan realitas sosial tentang peristiwa belajar siswa beserta paradigma berfikir yang melandasi operasionalnya niscaya merupakan kebutuhan [dasar] yang tidak bisa ditawar lagi! Subyek pelaku belajar dan lingkungan belajar mesti dipahami dalam konteks kultural yang humanis dan eksistensial.

Dengan demikian, hal ini niscaya membawa konsekuensi pada dilakukannya reorientasi kurikulum di jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan. Ini bukan sebatas pada upaya untuk mencapai relevansi pendidikan! Lebih dari itu, jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan mampu tampil sebagai pionner – lebih tepaynya martyr – bagi setiap detak perubahan di sektor kurikulum dan teknologi pendidikan. Kalaupun kenyatannya masih jauh tertinggal, bukanlah merupakan sebuah kekalahan, melainkan sebuah tantangan untuk kemudian bekerja keras mencapai kemajuan. Perubahan pasti terjadi; karena perubahan hanya soal waktu!.

Posted by Uut at 05:47:21 | Permalink | Comments (9)